Selasa, 12 Maret 2013

Bagi penggemar tanaman atau yang memiliki hobi berkebun, seringkali menemukan binatang yang menjengkelkan, dimana dedaunan muda yang tumbuh segar, 
menjadi tak beraturan dan bolong-bolong bahkan habis dan tinggal tangkainya saja. Ternyata setelah kita perhatikan ada hewan yang biasanya berwarna 
hijau, sehijau dedaunan untuk kamu flase, binatang tersebut adalah ulat.
ulat daun

Ulat adalah salah satu binatang yang sangat rakus dalam melahap hijaunya dedaunan tanaman yang kita sayangi. Rasa marah yang sangat bila kita jumpai 
tanaman kesayangan kita telah habis dedaunannya, bahkan hanya tinggal ranting-ranting saja. Sedih dan marah rasanya karena usaha kita terasa terampas 
begitu saja karena ulah sang ulat.
Dibalik kekesalan dan rasa marah, pernahkah kita mencoba untuk melihat atau sedikit tertegun mengernyitkan dahi atas ulah sang ulat tersebut atau 
sebaliknya kita membunuhnya untuk melampiaskan kekesalan hati, setega itukah?
Hasil yang diakibatkan oleh ulah sang ulat memang sangat mengesankan bila dibanding dengan wujud ulat yang lemah dan lunak tubuhnya.
Melihat dari akibat yang dihasilkan maka dapat kita katakan bahwa karakter ulat adalah pekerja keras dalam menggunduli dedaunan tanaman kita, 
seakan-akan mereka seperti dikejar deadline dan harus buru-buru untuk menyelesaikan. Hasilnya sangat mengesalkan sekali buat kita, yaitu tanaman yang 
gundul dalam waktu yang relatif singkat dan sekali lagi sungguh mengesankan.
Dalam menjalani misinya sang ulat tak membiarkan sedikit waktu terbuang. Sang ulat baru berhenti ketika sampai pada saat yang ditentukan dimana ia harus 
berhenti makan untuk menuju ke dalam kondisi puasa yang keras. Puasa yang sangat ketat tanpa makan tanpa minum sama sekali, dalam lingkupan 
kepompong yang sempit dan gelap.
ulat daun

Pada masa kepompong ini terjadi sebuah peristiwa yang sangat menakjubkan, masa dimana terjadi transformasi dari seekor ulat yang menjijikkan menjadi 
kupu-kupu yang elok dan indahnya dikagumi manusia. Sang kupu-kupu yang terlahir seakan-akan menjadi makhluk baru yang mempunyai perwujudan dan 
perilaku yang baru dan sama sekali berubah.
Haruskah kita membiarkan begitu saja sebuah peristiwa yang sangat indah dan mengesankan ini, tentu tidak. Sebenarnya kita patut malu bila melihat tabiat 
ulat yang pekerja keras. Ulat seakan tak mempunyai waktu yang terluang dan terbuang sedikitpun. Waktu yang tersedia adalah waktu yang sangat berharga 
bagi ulat untuk menggemukkan badan sebagai persiapan menuju sebuah keadaan dimana diperlukan energi yang besar yaitu masa kepompong, seakan dikejar- 
kejar oleh deadline sehingga sang ulat tak pernah beristirahat ejenakpun untuk terus melahap dedaunan.
Berpacunya sang ulat dengan waktu, ternyata disebabkan sang ulat telah mempunyai sebuah tujuan yang sangat jernih dan jelas yaitu mengumpulkan semua 
potensi yang ada untuk menghadapi satu saat yang sangat kritis yaitu masa kepompong, dimana pada masa kepompong tersebut dibutuhkan persiapan yang 
prima. Datangnya masa kepompong adalah sebuah keniscayaan, maka sang ulat mempersiapkan dengan kerja keras untuk menghadapinya.
Sebuah persiapan diri dengan kerja keras dilakukan juga pada hewan- hewan yang mengalami musim dingin.Dimana untuk menghadapi masa sulit di musim 
dingin, banyak hewan yang melakukan hibernasi selama musim dingin di gua-gua atau liang-liang, agar terhindar dari ganasnya musim dingin. Agar tubuh tetap 
hangat dan tersedianya energi maka sebelum menjelang musim dingin, hewan-hewan tersebut akan menumpuk lemak sebanyak-banyaknya di dalam tubuhnya, 
untuk dipakai sebagai bekal dalam tidur panjangnya.
Lalu coba kita berkaca dan mereview diri kita, adakah semangat yang luar biasa selayaknya ulat yang telah menggunduli dedaunan, bukankah sebuah masa 
depan dan tanggung jawab yang begitu beratnya harus kita pikul dan tunaikan. Namun kita terbuai dan masih sering suka bermain- main, selayaknya tertipu 
oleh permainan yang sangat melenakan.
Masa-masa dalam kehidupan kita sebagai individu atau kelompok, pasti tak akan pernah luput dari masa yang menyenangkan dan kemudian digantikan 
masa-masa yang sulit, itu adalah sebuah kepastian, sepasti bergantinya musim hujan disongsong oleh musim kemarau yang memayahkan.
Janganlah kita terlena bahkan kalah dengan hewan yang bernama ulat yang mempunyai etos kerja unggul dan memiliki pola pandang yang jauh ke depan yang 
meniti masa depan tersebut dengan kerja keras, karena masa depan dengan kesulitan dan cobaan itu pasti akan datang dan menghampiri kita, maka persiapan 
yang matang dan kerja keras yang mampu menolong kita dan bukan kemalasan dan menunda-nunda pekerjaan.







Di Posting Oleh Unknown, Pada 16.35 dan 0 komentar

0 Realita

Guru adalah pekerjaan mulia. Orang-orang mengatakan bahwa guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Tugas guru adalah mengajar, mendidik, dan membuat seseorang mengetahui sesuatu yang dia atau dia tidak tahu sebelumnya.
Guru memiliki peran yang sangat aktif dalam kualitas pendidikan. Keberhasilan siswa dalam proses pembelajarannya adalah hasil dari kualitas guru itu sendiri. Karena itu, guru harus kompeten dan kreatif dalam proses belajar, pintar dan intellegent dalam membagi pengetahuan mereka kepada para siswa dan juga bertanggung jawab dalam mengajar ilmu pengetahuan.
Namun pada kenyataannya, saat ini, ada banyak fakta yang bertentangan dengan ketentuan yang ada. Guru di Indonesia, khususnya di Nusa Tenggara Timur, beberapa dari mereka ada yang melakukan tugas mereka secara bertanggung jawab, tetapi beberapa dari mereka ada juga yang tidak.
Mengapa saya berkata begitu? Karena ini adalah fakta sebenarnya yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir, guru hanya menggunakan nama “guru”  tanpa memahami arti dari nama itu. Mereka hanya berpikir bahwa ketika mereka mendapatkan sertifikat guru atau ketika mereka telah dilantik sebagai “PNS”, mereka telah menjadi guru yang baik, tanpa memikirkan keterampilan mereka atau kreatifitas mereka dalam mengajar.
Kualitas guru harus dipertanyakan. Mengapa tidak? Saya  punya teman. Beliau adalah seorang kakek yang mengajar bahasa Inggris di salah satu panti asuhan di Kupang. Beliau dapat berbicara  bahasa Inggris dengan sangat fasih, karena ia pernah berada di Singapura selama 12 tahun dan ketika ia masih sekolah, ia belajar di Sekolah Belanda.
Beliau mengatakan kepada saya bahwa ketika ia pergi untuk melakukan observasi di beberapa sekolah di kota Kupang bersama dengan teman-temannya dari Kanada, ada beberapa guru Bahasa Inggris membuat kesalahan ketika mereka mengajar.
Dia pernah mengawas di salah satu SMA di kota Kupang, yang mana waktu itu sedang berlangsung pelajaran Bahasa Inggris. Dia melihat guru menulis kalimat yang salah di papan tulis, kemudian siswa menyalin kalimat tersebut ke buku catatan mereka. Hal ini tentu tidak baik bagi siswa. Apa jadinya siswa jika gurunya sendiri salah?
Beliau juga mengatakan kepada saya bahwa ada juga beberapa guru di sekolah lain, yang mana mereka terus mengajar tanpa memikirkan pemahaman siswa mereka tentang pelajaran tersebut, apakah siswa mengerti atau tidak.
Kadang-kadang ada beberapa guru ketika siswa mereka mengajukan pertanyaan, mereka hanya mengatakan “kita akan membicarakannya minggu depan”. Tapi satu minggu kemudian, mereka tidak pernah meninjau kembali pertanyaan tersebut atau hanya sekedar menjawab pertanyaan itu.
Saya sangat menyayangkan hal ini. Itu  hanya beberapa hal sederhana yang terjadi di lingkungan pendidikan, khususnya di Nusa Tenggara Timur. Kualitas guru masih jauh dari kata “sempurna”,  karena masih ada beberapa guru yang tidak memahami pekerjaan dan profesinya secara baik, sehingga perlu untuk diperbaiki lagi.
Oleh karena itu, pendidikan bagi para calon  guru masa depan juga harus lebih dimaksimalkan lagi, sehingga dapat mengubah kualitas guru, bukan hanya dalam bidang ilmu Bahasa Inggris saja, tetapi juga guru untuk bidang ilmu lainnya, menjadi lebih baik dari sekarang.kompas.con





Di Posting Oleh Unknown, Pada 09.37 dan 0 komentar